VoliNews– Pertandingan final perebutan tempat ketiga berlangsung panas dan penuh tensi. Tim Victory harus bekerja keras sebelum akhirnya memastikan diri meraih posisi juara 3 setelah menundukkan Pervotama dalam laga yang diwarnai saling kejar poin dan serangan cepat dari kedua tim.
Sejak set pertama dimulai, Victory tampil percaya diri. Serangan demi serangan yang terorganisir membuat mereka mampu mengendalikan permainan. Tanpa banyak memberi celah, Victory menutup set pembuka dengan skor meyakinkan 25–17.
Namun pertandingan belum berakhir. Memasuki set kedua, Pervotama bangkit dan memberikan perlawanan sengit. Sempat tertinggal 4–7, Pervotama menunjukkan semangat juang tinggi. Mereka perlahan mengejar hingga 8–8, bahkan sempat berbalik menekan saat skor menyentuh 9–9.
Pertarungan poin pun semakin menegangkan. Kedua tim saling menyalip dan menempel ketat. Pervotama sempat unggul 19–18, tetapi Victory kembali menyamakan menjadi 19–19. Ketegangan memuncak ketika skor imbang 23–23.
Pada momen krusial tersebut, kesalahan “touch net” dari salah satu pemain Victory membuat Pervotama unggul 24–23. Meski Victory mampu menyamakan skor menjadi 24–24, Pervotama tampil lebih tenang di poin-poin akhir dan akhirnya mengamankan set kedua dengan 26–24, sekaligus menyamakan kedudukan 1–1.
Memasuki set penentuan, Victory tak ingin kehilangan momentum. Mereka langsung menekan sejak awal dan membuka jarak hingga 12–7. Pervotama sempat menambah dua angka untuk memperkecil ketertinggalan, tetapi Victory tetap menjaga ritme permainan.
Akhirnya, Victory menutup set ketiga dengan kemenangan 15–9, sekaligus memastikan diri sebagai juara 3 setelah melalui pertandingan yang penuh drama dan semangat juang dari kedua tim.
Merayakan ‘Vicrory Lap’ Bersama Lawan
Ada momen yang benar-benar menyentuh hati usai kemenangan Victory atas Pervotama. Di tengah euforia kemenangan, pelatih Victory, Hasan Basri, justru menunjukkan makna sejati dari olahraga.
Ia mengajak para pemain Victory bergandengan tangan membentuk lingkaran. Tak hanya dengan timnya sendiri, mereka juga merangkul para pemain Pervotama—tim yang baru saja mereka kalahkan. Bersama-sama mereka melakukan victory lap, berjalan mengelilingi lapangan dengan senyum, tepuk tangan, dan rasa saling menghormati.
Pemandangan itu sederhana, tetapi sarat makna. Di lapangan, mereka memang bertarung habis-habisan sebagai lawan. Namun begitu peluit akhir berbunyi, persaingan berubah menjadi persahabatan.
Momen ini menjadi pengingat bahwa olahraga bukan sekadar tentang menang atau kalah. Lebih dari itu, olahraga adalah tentang persaudaraan, sportivitas, dan saling menghargai—nilai-nilai yang justru membuat pertandingan terasa jauh lebih indah.
Pun ketika Victory Putra menang atas BMV, Victory juga membagikan kebersamaan kebahagiaan atas kemenangannya bersama Tim yang telah dikalahkannya.
“Kami selalu menghormati perjuangan lawan saat dan setelah bertanding. Dengan cara ini lah kami menghargai lawan karena mereka musuh di arena, akan tetapi sahabat di luar arena,” ujar Hasan Basri, pemilik sekaligus pelatih Victory.
(august sss)














