VoliNews– Di balik riuh tepuk tangan penonton dan kerasnya smash para pemain di lapangan, ada sosok-sosok yang bekerja dengan penuh konsentrasi menjaga jalannya pertandingan tetap adil. Mereka bukan atlet yang mencetak poin, namun perannya tak kalah penting.
Di Kabupaten Bekasi, langkah pembinaan terhadap para penjaga fair play itu kini mulai terlihat nyata.
Pengurus Kabupaten Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Kabupaten Bekasi tidak hanya fokus membina atlet melalui berbagai turnamen. Organisasi ini juga memberi perhatian serius pada pengembangan pelatih dan wasit agar kualitas pertandingan terus meningkat.
Sebulan lalu, tepatnya pada 5–7 Februari 2026, PBVSI Kabupaten Bekasi menggelar pelatihan wasit dan pelatih daerah. Kegiatan tersebut diikuti oleh para pelatih serta calon wasit bola voli dari berbagai wilayah di Kabupaten Bekasi.
Pelatihan itu menjadi ruang belajar sekaligus pintu masuk bagi generasi baru perangkat pertandingan.
Namun proses belajar tidak berhenti di ruang pelatihan.
Usai mengikuti materi dan ujian, para peserta kini mulai diajak turun langsung ke lapangan untuk memimpin pertandingan. Pengalaman nyata ini dianggap sebagai cara terbaik untuk menambah jam terbang sekaligus mematangkan naluri kepemimpinan mereka dalam pertandingan bola voli.
Kesempatan itu hadir melalui turnamen Ramadhan Cup 2026 yang berlangsung pada 25 Februari hingga 7 Maret 2026. Dari empat peserta perempuan yang baru saja mengikuti pelatihan, tiga di antaranya dipercaya menjadi bagian dari perangkat pertandingan.
Meski baru bertugas sebagai wasit dua, pencatat skor (scoresheet), maupun line judge, pengalaman tersebut memberi wawasan yang sangat berharga. Mereka bisa merasakan langsung atmosfer pertandingan dan menyaksikan determinasi para pemain yang berjuang meraih kemenangan.
Salah satunya adalah Raih Rizki.
Perempuan muda ini mengaku bangga mendapat kesempatan menjadi line judge dalam turnamen Ramadhan Cup. Dengan bendera kecil di tangan, ia berdiri di sudut lapangan, mengamati setiap bola yang jatuh dengan ketelitian tinggi—apakah masuk (in) atau keluar (out) dari garis lapangan.

“Perasaan saya tentu bangga dan senang bisa dipercaya bertugas di turnamen ini,” ujarnya.
Bagi Raih Rizki, pengalaman itu bukan sekadar menjalankan tugas. Ia belajar membaca arah bola, memperhatikan garis lapangan dengan fokus, serta memberi isyarat kepada wasit utama dengan cepat dan tepat.
Menariknya, Raih Rizki bukan atlet bola voli Ia juga bukan seorang guru olahraga sekaligus pengurus klub bola voli. Dalam kesehariannya, dara berkulit putih bersih ini bekerja di RS Mitra Keluarga pada bagian radiologi.
Meski bukan pemain, kecintaannya terhadap olahraga voli begitu besar. Itulah yang mendorongnya mengikuti pelatihan wasit.
“Kebetulan saya membaca berita di VoliNews.com tentang pelatihan bola voli, lalu saya langsung mendaftar,” tuturnya.
Di Ramadhan Cup, Raih Rizki juga mendapat tugas sebagai scoresheet atau pencatat jalannya pertandingan. Dari posisi ini, ia tidak hanya mencatat perolehan poin, tetapi juga memantau rotasi pemain di lapangan.
Ketelitian menjadi kunci. Ia harus mencermati jika terjadi kesalahan rotasi, memastikan pergantian pemain tidak melebihi batas yang diizinkan, hingga mengawasi jumlah time out yang diminta oleh setiap tim.
Bagi Raih Rizki, setiap pertandingan menjadi ruang belajar yang berharga. Dari satu laga ke laga lain, ia terus menambah pengalaman dan memahami lebih dalam dinamika pertandingan bola voli.
Ketua Bidang Perwasitan PBVSI Kabupaten Bekasi, Thomas Kurniawan, menegaskan bahwa kesempatan seperti ini memang sengaja diberikan kepada para wasit baru.
Menurutnya, jam terbang adalah kunci utama untuk meningkatkan kualitas perangkat pertandingan.
“Wasit harus terus diberi kesempatan memimpin pertandingan. Dari situ pengalaman mereka bertambah, sehingga ke depan bisa naik level dari wasit dua menjadi wasit satu,” ujarnya.
Langkah pembinaan ini menjadi bukti bahwa perkembangan olahraga tidak hanya bergantung pada para pemain di lapangan. Di balik setiap pertandingan yang berjalan tertib dan sportif, ada proses panjang pembelajaran, keberanian mencoba, dan semangat orang-orang seperti Raih Rizki yang dengan bangga menjaga keadilan permainan.
Dan di setiap kibaran bendera kecil di sudut lapangan, tersimpan mimpi besar untuk terus tumbuh bersama olahraga yang mereka cintai. ( august sss)














